Tips MP-ASI Sesuai WHO

MP-ASI yang baik adalah kaya energi, protein, mikronutrien, mudah dimakan anak, disukai anak, berasal dari bahan makanan lokal dan terjangkau, serta mudah disiapkan. Banyaknya kasus kurang gizi di dunia, terutama kasus kurang protein, zat besi dan vitamin A; telah mendorong WHO sebagai badan kesehatan dunia untuk memperbaharui beberapa prinsip penting di tahun 2010 untuk panduan pemberian makan bagi bayi dan anak, yang dikenal dengan prinsip AFATVAH :

Age : MP-ASI diberikan saat bayi berusia 6 bulan berdasarkan kesiapan pencernaan bayi. Resiko pemberian mp-asi dini sebelum usia 6 bulan sudah dibahas di Bab 1. Pemberian mp-asi telat bulan dapat menyebabkan bayi tidak mendapat cukup nutrisi, sehingga mengalami defisiensi zat besi, tumbuh kembang yang terlambat.

Frequency : frekuensi pemberian makan.

Di awal mp-asi diberikan 1-2 kali;

seterusnya usia 6-9 bulan diberikan 2-3 kali makan sehari ditambah 1-2 x cemilan;

usia 9-12 bulan 3 x makan dan 2x cemilan.

Amount : banyaknya pemberian makanan.

Di awal mp-asi berikan sebanyak 2-3 sdm dewasa per porsi makan;

usia 6-9 bulan bertahap mulai dari 3 sdm dewasa hingga 125 ml per porsi makan;

usia 9-12 bulan bertahap dari 125 ml hingga 250 ml per porsi makan.

Texture : tekstur makanan, berdasarkan panduan WHO terbaru ini bayi langsung diberi puree/bubur halus (lembut) tapi semi kental. Patokan kekentalan dilihat dari makanan yang tidak langsung tumpah ketika sendok dibalik. Kekentalan berbanding lurus dengan banyaknya asupan kalori dan nutrisi.

Mulai usia 9 bulan sudah bisa makanan yang dicincang halus, tidak keras dan mudah dijumput oleh anak.

Setelah mulai makan beberapa minggu sampai usia 9 bulan, tekstur lebih kental berupa bubur saring yang lebih bertekstur daripada bubur halus/lembut.

Diharapkan mulai usia 1 tahun anak sudah bisa makan makanan keluarga.

Variety : variasi keberagaman makanan diberikan sejak awal pemberian mp-asi terdiri dari karbohidrat, protein nabati (kacang-kacangan), protein hewani, sayuran dan buah, serta sumber lemak tambahan. Keberagaman makanan diperlukan untuk keseimbangan antara masukan dan kebutuhan gizi karena tidak ada 1 jenis makanan yang memiliki semua unsur gizi yang dibutuhkan. Dengan mengonsumsi makanan yang beranekaragam, kekurangan zat gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh zat gizi jenis makanan lainnya, sehingga diperoleh masukan zat gizi yang seimbang.

Untuk perkenalan awal mp-asi, paling lama 2 minggu pertama disarankan dikenalkan bubur dan pure buah tunggal (dari satu jenis bahan) dengan frekuensi makan 1-2 kali sehari. Masa pengenalan ini digunakan untuk pengenalan variasi sumber karbohidrat, sayuran dan buah.

Paling telat minggu ketiga sudah harus dikenalkan aneka protein, baik protein hewani maupun protein nabati, dan sumber lemak tambahan dalam bentuk bubur halus/saring yang diberikan bersama dengan karbohidrat dan sayuran dengan frekuensi makan 2-3 kali sehari dan mulai dikenalkan 1 kali cemilan/makanan selingan.

Prinsip variasi keberagaman ini menjadi dasar atau panduan menyusun menu harian, untuk mudahnya mari kita sebut sebagai panduan 4 bintang yang harus memenuhi tiga fungsi makanan (disebut juga sebagai tri guna makanan : zat tenaga, zat pembentuk dan zat pengatur). Selalu sertakan 1 bahan makanan dari setiap kelompok jenis makanan (kelompok bintang) dalam menu harian MP-ASI dan makanan keluarga yang terdiri dari :

* Sumber hewani sebagai sumber pembentuk sel tubuh dan sumber zat besi (memenuhi fungsi zat pembentuk)

** Sumber karbohidrat dikenal sebagai makanan pokok sumber penghasil energi (memenuhi fungsi zat tenaga)

*** Kacang-kacangan sebagai sumber protein nabati dan mineral zat besi (memenuhi fungsi zat pengatur)

**** Sumber vitamin A dari sayuran dan buah (memenuhi fungsi zat pengatur)

***** Lengkapi dengan unsur penunjang yaitu sumber lemak tambahan untuk menambah kalori

Terkait dengan keberagaman bahan makanan, jika orang tua memiliki riwayat alergi terhadap makanan tertentu, ada baiknya melakukan “tunggu 2-3 hari” saat mengenalkan makanan baru pada bayi, khususnya makanan pemicu alergi pada orangtuanya. Jika tidak ada riwayat alergi dalam keluarga, disarankan memberikan variasi makanan setiap harinya agar anak mendapatkan variasi nutrisi sejak awal pemberian mp-asi.

Makanan pemicu alergi pada umumnya : telur, ikan laut, kacang-kacangan, beberapa buah-buahan golongan berry, tomat, jeruk dan jambu biji.

Active/responsive : saat memberi makan, respon anak dengan senyum, jaga kontak mata, kata-kata positif yang menyemangati. Beri makanan lunak yang bisa dipegang untuk merangsang anak aktif makan sendiri.

Hygiene : menyiapkan dan memasak makanan secara higienis. Pastikan makanan bebas patogen, tidak mengandung racun/bahan kimia berbahaya, cuci bersih, masak dan simpan dengan baik, cuci tangan ibu dan bayi sebelum makan.

Referensi:

http://whqlibdoc.who.int/publications/2009/9789241597494_eng.pdf

http://kultwit.aimi-asi.org/2012/05/wmpasi

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&ved=0CD0QFjAD&url=http%3A%2F%2Flontar.ui.ac.id%2Ffile%3Ffile%3Ddigital%2F125830-S-5822-Hubungan%2520pengetahuan-Literatur.pdf&ei=-bJ7Uv65AoKqrAez74HIAQ&usg=AFQjCNEY6Ku-lvkBUC4M8DSnMfwNo2mMfg&bvm=bv.56146854,d.bmk

Departemen Kesehatan. Pedoman Umum Gizi Seimbang.

Modul Kelas Edukasi Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI), AIMI.

UNICEF, Booklet Pesan Utama Pemberian Makanan Bayi dan Balita, Paket Konseling, AIMI 2012

UNICEF, Materi Peserta, Modul Pemberian Makan Bayi dan Balita dan Pendamping ASI, AIMI 2012

Masalah – Masalah yang Sering dialami Ibu Menyusui

Masalah-Masalah Payudara yang Dialami Ibu Menyusui

Puting Datar/Puting Masuk/Puting Terbelah

Puting kecil atau puting datar atau puting terbelah bukan hambatan untuk menyusui karena bayi tidak menyusu pada puting melainkan pada payudara dengan mengikutsertkan areola.  Jadi, bagaimana pun bentuk puting ibu, bayi tetap dapat menyusu selama posisi dan pelekatan bayi baik. Ada beberapa cara untuk mengatasi hal ini:

  1. Penarikan puting secara manual/dengan tangan. Puting ditarik-tarik dengan lembut beberapa kali hingga menonjol.  Selama hamil tidak perlu menarik-narik puting,, terutama pada trimester terakhir karena dapat memicu kontraksi dini (bayi dapat lahir prematur).
  2. Pada awal menyusui bisa sulit, tetapi posisi dan pelekatan yang benar akan sangat membantu. Untuk itu diperlukan bantuan dari konselor/konsultan laktasi untuk membantu ibu dengan teknik posisi dan pelekatan pada saat bayi menyusu. Untuk ibu berputing datar, lakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan biarkan bayi melekat sendiri pada payudara.
  3. Penarikan puting dengan menggunakan spuit ukuran 10—20 ml, bergantung pada besar puting. Ujung spuit yang terdapat jarum dipotong dan penarik spuit (spuit puller) dipindahkan ke sisi bekas potongan. Ujung yang tumpul di letakkan di atas puting, kemudian lakukan penarikan beberapa kali hingga puting keluar. Lakukan sehari tiga kali: pagi, siang, dan malam, masing-masing 10 kali.
  4. Puting bisa dipancing untum lebih keluar dengan menggunakan breastpump sebelum menyusui. Puting juga bisa dipancing dengan mengompres puting dengan air dingin sebelum menyusui, agar puting sedikit “mengembang”.
  5. Hindari penggunaan penyambung puting (nipple shield) pada saat menyusui, karena akan menyakiti puting ibu, serta membuat bayi tidak belajar untuk melekat (latch-on) dengan benar pada payudara.
  6.  Menyusui dengan menggunakan posisi football hold atau cross cradle, sehingga ibu bisa menyangga kepala bayi agar tidak mudah lepas saat menyusu. Dengan dua posisi menyusui ini, ibu dapat membentuk payudara, dengan menopang payudara dari bagian bawah dengan jari-jari, dan menekan bagian atas payudara dengan ibu jari (C hold, U hold). Apapun posisi yang dipilih, pastikan pelekatannya selalu benar (lihat Dokumen tentang Posisi dan Pelekatan Menyusui)Puting Lecet/Luka

    Puting lecet, pecah, luka dan sejenisnya tejadi karena posisi dan pelekatan menyusui yang kurang tepat. Cara mencegahnya adalah dengan memperbaiki posisi dan pelekatan menyusui, karena jika tdk diperbaiki, puting akan terus rentan lecet. Bila lecet tidak parah, bisa tetap menyusui, sebelum dan sesudah menyusui, olesi puting lecet dengan ASI karena ASI bisa melembutkan areola dan puting, serta mengandung desinfektan yang mempercepat sembuhnya luka. Seringlah menganginkan puting agar daerah tersebut tidak lembab sehingga lecet bertambah parah. Namun bila lecetnya sangat parah hingga berdarah, istirahatkan dulu payudara selama setidaknya 24 jam. Keluarkan ASI dengan cara diperah, paling tidak sakit biasanya memerah dengan tangan, dan berikan ASIP pada bayi menggunakan sendok, pipet, atau cup feeder.

     

    Milk Blister/Nipple Bleb

    Milk blister biasanya berupa bintil putih seperti jerawat yang kelihatan mau pecah pada puting payudara. Sebabnya bisa bermacam-macam, posisi dan pelekatan menyusui yang kurang tepat, atau bisa jadi tekanan yang terlalu kuat pada payudara sementara produksi ASI sedang banyak. Milk blister ada yang bisa kita hilangkan sendiri, ada yang kadangkala harus ke dokter atau klinik laktasi untuk dipecahkan dengan jarum steril. Payudara dan daerah di sekitar terjadinya blister bisa dikompres air hangat sebelum menyusui sambil dibersihkan pelan-pelan di lokasi blisternya dengan menggunakan lap lembut yang sudah dicelup air hangat, tetapi jangan digosok.

    Jangan lupa tetap oleskan sedikit ASI di puting sebelum dan sesudah menyusui karena ASI mengandung desinfektan. Jika milk blister tidak pecah sendiri, silakan menghubungi dokter atau klinik laktasi agar bisa dipecahkan dengan jarum steril. Kalau berani melakukan sendiri, prosedur ini juga bisa dilakukan sendiri dengan jarum yang steril. Ada juga yang menyarankan untuk merendam puting dalam air hangat yang diberi garam untuk membuka pori-porinya sehingga milk blister cepat pecah. Selama ada milk blister di puting ibu tetap bisa menyusui seperti biasa.

     

    Payudara Bengkak (Obstructed Ducts)

    Payudara menjadi bengkak biasanya jika ada sumbatan ASI di saluran payudara. Bengkak di beberapa bagian payudara biasanya terjadi karena aliran ASI yang kurang lancar. Sebabnya bisa bermacam-mcam: posisi dan pelekatan saat menyusui yang kurang tepat, produksi ASI yang meningkat tajam tapi tidak diikuti dengan pengosongan yang efektif, bisa jadi karena payudara dibiarkan penuh terlalu lama atau bisa juga karena bra yang terlalu ketat. Cara menanggulanginya antara lain:

    1. Dengan membiarkan bayi menyusu pada payudara yang bengkak karena hisapan bayi yang paling efektif mengurangi bengkak. Jika sedang jauh dari bayi bisa diperah atau dipompa untuk mengurangi bengkak.
    2. Payudara dikompres dengan air hangat untuk membantu memperlancar aliran ASI dan setelah menyusui dikompres dengan air dingin utk mengurangi bengkaknya.  Bisa juga kompres dengan lembaran daun kol yang dimasukkan ke kulkas untuk mengurangi bengkak.
    3. Lakukan teknik Reverse Pressure Softening, yaitu dengan menggunakan 4 – 5 jari ibu mengitari puting dan menekan-nekannya kearah dada. Hal ini untuk mencegah puting ibu melebar atau ikut membengkak.
    4. Payudara harus sering dikosongkan dengan efektif karena jika tidak, selain bisa membuat bengkak, juga bisa menurunkan produksinya. Kalau sedang jauh dari bayi sebaiknya diperah atau dipompa.Mastitis (Infeksi Payudara)Mastitis adalah infeksi payudara yang seringkali gejalanya mirip dengan payudara bengkak. Mastitis disebabkan karena infeksi (hampir selalu karena bakteri daripada jenis kuman lainnya) yang biasanya terjadi pada ibu menyusui. Namun dapat pula terjadi pada wanita mana saja, bahkan saat ia tidak sedang menyusui, bahkan juga dapat terjadi pada bayi baru lahir, dengan jenis kelamin apapun. Tidak ada yang tahu secara pasti mengapa beberapa wanita mengalami mastitis sedang yang lainnya tidak. Bakteri dapat masuk ke payudara melalui retakan atau lecet pada puting, tetapi wanita yang putingnya tidak lecet juga dapat mengalami mastitis, dan banyak juga wanita yang putingnya retak atau lecet malah tidak mengalaminya. Mastitis berbeda dengan saluran tersumbat, karena saluran tersumbat (obstructed ducts atau payudara bengkak) bukanlah infeksi, sehingga tidak perlu diobati dengan antibiotik. Pada saluran tersumbat, ibu merasakan sakit, bengkak dan pengumpulan massa di payudara. Kulit yang menutupi saluran tersumbat biasanya berwarna merah, tapi tidak semerah pada mastitis. Tidak seperti mastitis, saluran tersumbat tidak selalu diikuti dengan demam, walaupun bisa saja demam terjadi. Mastitis biasanya lebih sakit daripada saluran tersumbat, tapi keduanya bisa terasa cukup sakit. Karena itu, tidak mudah membedakan antara mastitis ringan dan saluran tersumbat yang parah. Ada kemungkinan juga saluran tersumbat berkembang menjadi mastitis, sehingga menjadi lebih rumit.

       

      Tanda-tanda umum mastitis:

      1. Payudara terasa hangat bila disentuh
      2. Perasaan sakit
      3. Pembengkakan payudara  yang kadang diawali juga dengan luka atau lecet pada puting
      4. Nyeri atau rasa panas terus menerus atau saat menyusui
      5. Kulit payudara kelihatan kemerahan
      6. Demam di atas 38 derajat Celcius
      7. Mastitis walaupun biasanya terjadi dalam beberapa minggu pertama menyusui, walau bisa terjadi setiap saat selama menyusui.
      8. Mastitis cenderung hanya menyerang satu payudara bukan kedua payudara.Hal-hal yang dapat meningkatkan risiko mastitis antara lain:
        1. Puting yang sakit atau luka, walaupun mastitis juga bisa terjadi tanpa adanya luka pada kulit
        2. Sudah pernah mengalami mastitis sebelumnya
        3. Hanya menggunakan satu posisi menyusui, yang bisa jadi tidak sepenuhnya mengosongkan payudara
        4. Memakai bra yang terlalu ketat, sehingga menghambat aliran ASI

         

        Komplikasi yang bisa terjadi pada mastitis antara lain:

        1. Bila Anda pernah mengalami mastitis, ada kemungkinan Anda akan mengalaminya lagi, ketika Anda menyusui bayi yang sama atau anak Anda berikutnya. Hal ini biasanya disebabkan oleh pengobatan yang terlambat atau tidak tepat. Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan mastitis kambuh berulang kali: merokok, produksi ASI yang berlebih dan tidak diikuti dengan pengosongan payudara yang efektif , anemia, dan serta stres dan kelelahan.
        2. Ketika payudara tidak sepenuhnya dikosongkan saat menyusui, kondisi milk stasis (produksi ASI berlebih) dapat terjadi. Hal ini menyebabkan peningkatan tekanan pada pembuluh asi dan kebocoran ASI pada jaringan payudara di sekitarnya, sehingga timbul rasa sakit dan pembengkakan.
        3. Abses bernanah. Bila mastitis tidak segera ditangani dengan tepat, atau terjadi milk stasis, akan muncul nanah dalam payudara. Bila hal ini terjadi, dibutuhkan operasi untuk membersihkan nanah tersebut dari payudara. Untuk menghindari komplikasi ini, segera konsultasikan ke dokter bila muncul tanda atau gejala mastitis.Penanganan Mastitis:Dokter biasanya mendiagnosis mastitis berdasarkan pemeriksaan fisik, gejala demam, menggigil, dan daerah yang sakit di payudara. Tanda lainnya yang cukup jelas adalah adanya bentuk prisma segitiga tidak beraturan (wedge  pada payudara, yang sakit bila disentuh. Selain itu, dokter juga akan memeriksa apakah ada nanah atau komplikasi lain yang timbul bila mastitis tidak ditangani dengan tepat. Pengobatan mastitis biasanya mencakup:
          • Pengobatan mastitis umumnya membutuhkan waktu sekitar 10 – 14 hari pemberian antibiotik. Ibu bisa jadi sudah merasa sehat 24 – 48 jam setelah mulai meminum antibiotik, namun obatnya tetap harus dihabiskan untuk menurunkan kemungkinan timbul kembali.
          • Istirahat, tetap terus menyusui dan minum lebih banyak cairan akan membantu tubuh Anda mengatasi infeksi payudara. Kosongkan payudara yang terinfeksi sesering mungkin. Bila bayi menolak menyusu pada payudara yang sakit, gunakan breastpump atau perah dengan tangan untuk mengosongkan payudara.
          • Kunci utama untuk menghindari mastitis adalah dengan mengosongkan payudara saat menyusui dengan posisi dan pelekatan yang benar. Mintalah bantuan konselor menyusui untuk memastikan posisi dan pelekatan yang benar.